Share

Grab This

0 komentar 03 November 2009

Sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya telah menonton film Virgin 2, supaya nyambung.


1

Seorang petugas kebersihan yang sedang melaksanakan tugasnya pagi itu dibuat terkejut dengan kehadiran seorang perempuan muda yang tengah tertidur di atas kursi di depan Circle-K Dago Plaza. Ia mengamati gadis itu. Gadis muda yang usianya masih SMA itu memakai topi kupluk warna hijau army, jaket abu-abu, kaos ketat hijau cerah yang memperlihatkan belahan dada, serta celana jeans pendek. Si petugas kebersihan tidak terlalu heran dengan cara berpakaian seperti itu, sebab anak-anak gaul kota Bandung yang sering hang out di tempat ini memang seringkali mengenakan pakaian yang mengundang hasrat laki-laki, bahkan banyak yang lebih vulgar lagi.

“Mbak… Mbak…,” ucapnya berusaha membangunkan.

Si gadis muda yang sebenarnya bernama Tina itu kemudian menggeliat bangun dan meregangkan tangannya. Sinar matahari pagi yang begitu cerah memaksa matanya untuk terbuka lebih lebar, meskipun masih lengket karena belekan. Ia ingat, semalam ia telah diusir dari rumah oleh ibunya sendiri karena suatu kesalahpahaman yang amat fatal. Sebenarnya ia telah berusaha menelepon teman-temannya, namun tak satupun yang bisa memberikan tempat menginap dalam kondisi mendadak seperti itu. Setelah semalaman berkeliling Kota Bandung dengan pakaian mini—yang entah kenapa ia tidak merasa kedinginan—ia akhirnya tertidur di depan minimarket ini.

Merasa perutnya keroncongan karena belum sarapan, ia pun masuk ke dalam minimarket Circle-K di hadapannya, sebuah minimarket dua puluh empat jam yang oleh anak-anak gaul tunawisma Kota Bandung sering dijadikan ikon pergaulan mereka. Ia mengambil beberapa minuman ringan dan beberapa makanan ringan seharga lima puluh ribu rupiah, lalu membayarnya di kasir. Memang, lima puluh ribu rupiah adalah nominal yang sangat luar biasa bagi harga sarapan seorang gadis muda yang baru saja diusir dari rumah, tapi siapa yang peduli, mungkin Tina memang seorang gadis muda yang kaya raya.

Tina menyantap sarapannya itu sambil duduk di anak tangga Dago Plaza, meskipun di dekatnya ada tempat duduk, tapi ia merasa lebih nyaman duduk di atas anak tangga. Ketika sedang asyik menikmati sarapan, ia secara tidak sengaja melihat seorang om-om di dalam sebuah mobil yang tengah diparkir, yang sedang memandanginya dengan tatapan yang aneh. Tina merasa penasaran dengan ekspresi om-om itu, maka ia pun berjalan mendekat secara perlahan-lahan. Mata om-om itu memandangi tubuh Tina dengan lekat, tak sedetikpun pandangannya lepas, sementara nafasnya tampak terengah-engah dan ada raut birahi pada wajahnya. Tina tiba-tiba saja merasa jijik (dan sedikit ge-er) membayangkan apa yang sedang dilakukan om-om itu di dalam mobil: jangan-jangan om-om itu sedang menjadikan dirinya sebagai objek pelampiasan nafsu syahwat. Ketika Tina berada tepat di depan jendela mobil, tiba-tiba saja om-om itu menyodorkannya selembar uang lima puluh ribu rupiah lewat sela-sela kaca mobil yang terbuka. Tina merasa heran, mengapa ia diberi uang? Jangan-jangan dugaannya tadi benar?

“Ada kembaliannya nggak?” tanya om-om itu.

“Hah? Kembalian?” Tina semakin bingung.

“Lho? Kamu bukannya tukang parkir?” ucap om-om itu sambil menyemprotkan obat asma ke dalam mulutnya sendiri.



2

Kenny, 16 tahun
Broken Home
Coba bunuh diri
menjadi vokalis black metal
Pita suara rusak

Tina mendekati Kenny yang sedang duduk di anak tangga Dago Plaza sambil mendengarkan lagu melalui headphone kesayangannya. Kenny adalah teman sebayanya yang cukup akrab dan sering mengajaknya pergi menjauh dari kebisingan gaya hidup metropolitan dengan cara hang out di kuburan.

“Kenny!” panggil Tina sambil duduk di sampingnya.

Kenny yang baru saja menyadari keberadaan Tina langsung melepaskan headphone-nya agar dapat mendengar saura Tina dengan lebih baik.

“Gue lagi bete nih,” gumam Tina sambil membuka tutup botol air minumnya.

Kenny yang merupakan seorang tunawicara, langsung mengambil selembar kertas kecil dan sebuah pulpen dari dalam tasnya. Untuk bisa berkomunikasi dengan Tina, ia memang harus menggunakan bahasa tulisan, tapi untungnya Tina selalu memahami keterbatasan sahabatnya itu sehingga ia mau menunggu cukup lama saat Kenny menuliskan perkataannya. Setelah selesai menulis, ia pun memperlihatkan kertas itu pada Tina.

KENAPA?

Begitulah isi tulisan pada kertas. Tina membacanya dan kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Nyokap ngusir gue dari rumah.”

Dengan ekspresi heran dan penasaran, Kenny merasa ingin tahu masalah yang menyebabkan Tina diusir dari rumahnya, dan ia merasa perlu bertanya lagi. Namun ia bukannya menulis tulisan baru di kertas itu, ia malah menyodorkan kertas yang sama lagi.

KENAPA?

Tina membaca tulisan itu lagi, lalu mengerutkan keningnya.

“Dia nggak percaya sama gue,” jawab Tina.

Merasa jawaban Tina belum memuaskan rasa ingin tahunya, ia pun kembali ingin bertanya. Bagaimanapun, Tina adalah sahabatnya, dan ia ingin meringankan beban masalah apapun yang dimiliki Tina. Maka Kenny menyodorkan kertas yang sama lagi, tanpa menambahkan tulisan apa-apa.

KENAPA?

“Karena gue hampir diperkosa, sama pacarnya nyokap gue,” ujar Tina sambil menghela nafas.

Kenny menyodorkan kertas itu lagi.

KENAPA?

Tina menatap wajah Kenny dalam-dalam.

“Lo lagi ngirit pulpen ya, Ken?” tanya Tina.

Kenny mengangguk.




3

“Kita mau ngapain lagi sih?” tanya Tina pada Stefi yang mengajaknya pergi ke Dago Plaza malam itu (entah mengapa seolah-olah di Bandung tidak ada tempat nongkrong yang lain).

“Kerja,” jawab Stefi singkat.

Tina memang sudah dua malam ini menginap di rumah Stefi semenjak diusir oleh ibunya sendiri. Pada malam pertama menginap di rumah Stefi, ia sempat menyaksikan Stefi bercinta dengan seorang om-om yang tidak dikenal, dan kalau mengingat kejadian itu ia pun paham bahwa “kerja” yang dimaksud Stefi tentunya adalah dalam pengertian yang negatif. Tina merinding memikirkan kemungkinan itu.

“Lo malem-malem gini pake celana pendek banget. Gue aja yang jablay celananya nggak sependek itu,” gumam Stefi. Tina tidak menanggapi perkataan Stefi dan tetap memasang wajah inosens.

“Eh, tuh!” ujar Stefi sambil menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang menghisap shisha.

Hanya dalam beberapa menit kemudian, mereka pun sudah dalam perjalan ke tempat parkir bersama laki-laki itu. Stefi menyuruh Tina untuk menunggu di balik dinding sementara ia kemudian masuk ke dalam sebuah mobil sedan bersama laki-laki tadi. Setelah menunggu beberapa menit, Tina diam-diam mengintip ke arah mobil tempat Stefi berada. Samar-samar ia dapat melihat wajah dan tangan Stefi yang menempel pada kaca mobil, wajah Stefi tampak terengah-engah dan suara desahan dapat terdengar pelan, hal itu mengingatkan dia pada film Titanic. Jantung Tina berdebar-debar, ternyata benar dugaannya selama ini bahwa Stefi adalah seorang pelacur.

Sesaat setelah Stefi kembali menghampirinya, Tina bertanya dengan perasaan enggan.

“Tadi di dalam mobil ngapain?”

“Oh, tadi? Itu, kerokan,” jawab Stefi singkat.

“Kerokan?”

“Iya, tadi kan gue minta dikerokin sama om-om itu, soalnya semenjak lo nginep di rumah gue, gue tidur di luar terus, jadinya masuk angin,” jawab Stefi sambil memberikan uang lima puluh ribu rupiah dan segera mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Gue lagi dibegoin, atau emang pikiran gue yang ngeres ya?” gumam Tina dalam hatinya.




4

“Ngapain lo di sini? Jual diri?” tanya Nadya pada Tina ketika tanpa sengaja mereka bertemu di pinggir rel kereta api.

“Nggak,” jawab Tania dengan suara yang gemetar.

“Kalau mau jual diri bukan di sini tempatnya. Sana, di Saritem aja,” ucap Nadya ketus.

“Gue nggak jual diri.”

“Ngapain kalo gitu?”

“Ceritanya panjang….”

“Gue punya banyak waktu.”

Sesaat mereka terdiam, namun beberapa detik kemudian Tina mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Nadya.

“Gue diusir dari rumah. Gue diperkosa temennya temen gue, trus gue dijual,” air matanya mulai menggenang, “ Sekarang gue nggak tau mesti pulang kemana.”

“Katanya ceritanya panjang?” ujar Nadya.

“Ya, ya ga panjang-panjang amat juga sih….”

“Ancur dong hidup lo?”

“Emang….”

“Emang dasar ya dunia kita ini udah faktap,” ujar Nadya sambil pandangannya menerawang ke arah kegelapan malam.

“Faktap?” tanya Tina heran.

“Iya, faktap.”

“Hmmm…. Faktap?”

“Fucked up,” eja Nadya.

“Ooo… kirain apa.”

Nadya terdiam, kemudian mereka berdua menghela nafas lelah. Lelah karena cobaan kehidupan yang terus melanda mereka.

“Tadi kenapa? Kok muntahnya banyak banget? Sakit perut ya?”

“Wo.. wo… wo…, santai….” Ucap Nadya memotong deretan pertanyaan Tina.

“Santai?”

“Iya, santai,” kemudian Nadya meniru suara Rhoma Irama, “Shantai….”

“Sori…,” gumam Tina pelan, merasa bersalah karena telah memberondong orang yang baru dikenalnya itu dengan sederetan pertanyaan pribadi.

“Panjang ceritanya…,” ujar Nadya.

“Gue punya banyak waktu,” ucap Tina dengan wajah polosnya.

“Gue bunting!” jawab Nadya ketus.

“Katanya ceritanya panjang?”

“Nggak panjang-panjang amat juga sih….”

“Ancur dong hidup lo?”

Mereka terdiam sesaat.

“Anjrit! Lo nggak kreatip banget sih! Ngulang-ngulang dialog segala, enek tau dengernya!” teriak Nadya sambil mendorong Tina dan menamparnya bolak-balik.


5

Baru saja Nadya dan Tina menjual diri mereka pada om-om demi mendapatkan uang untuk menebus biaya pengobatan teman mereka. Meskipun di antara mereka sudah tidak ada yang masih virgin (dan secara aneh film tentang mereka diberi judul Virgin 2), namun perasaan tertekan dan tenodai terus menghinggapi pikiran mereka, sehingga akhirnya mereka pun mandi bersama. Dalam satu bak yang sama mereka berendam, diselimuti busa-busa sabun yang menghalangi tubuh mulus mereka dari sorotan kamera.

“Habis ini… kita ke Jakarta,” gumam Nadya pelan.

“Bukannya kita sekarang lagi di Jakarta?” tanya Tina polos.

“Di Bandung, Bego. Lo nggak nyadar dari kemarin nongkrong di Dago Plaza?”

“Tapi kok, kalau emang kita di Bandung, nggak ada satu pun tokoh yang berlogat Sunda, semuanya berlogat Betawi.”

“Mana gue tau, bukan gue pembuat skenarionya.”

“Trus, kenapa harus ke Jakarta?” tanya Tina lagi.

“…langit di Jakarta lebih biru,” jawab Nadya sambil menunduk.

“Puitis banget….,” jawab Tina tanpa ekspresi, “tapi nggak logis banget. Di Jakarta kan banyak polusi, nggak mungkin langitnya lebih biru.”

“Sadefakap….”

“Di Jakarta kita ngapain?”

“Melacur lagi lah…. Kabarnya bayarannya lebih mahal,” jawab Nadya lesu.

“Baidewey, kaki lo ngapain sih? Kok ngelus-ngelus punya gue melulu? Jangan macem-macem ah!” ujar Tina sambil melihat ke arah kaki Nadya yang tertutup busa sabun.

“Enak aja! Lo kira gue lesbi?”

“Bukannya lo emang lesbi?”

“Gue punya cowok! Dan gue hamil! Masa lo lupa?”

“Tapi… lo kan waktu itu ciuman ama temen lo yang cewek.”

“I… itu kan…, ciuman persahabatan….”



6

Kira-kira seminggu setelah adegan terakhir di ending film Virgin 2, alkisah Tina kembali mejalani hidup yang normal dan berbaikan dengan ibunya. Pada suatu pagi ia datang ke Circle K untuk sarapan seharga lima puluh ribu seperti biasanya. Ketika Tina bermaksud membayar belanjaannya ke kasir, tiba-tiba saja sebuah musik bernada ceria terdengar dari speaker, lalu si penjaga kasir menembakkan sebuah confetti ke arah Tina.

“Selamaaaaat! Anda adalah Customer of The Year kami! Terima kasih telah menjadi pelanggan setia CK dalam setiap detik kehidupan Anda…. Saat Anda sedang senang, Anda belanja di sini, saat Anda sedang kesusahan karena habis diperkosa dua orang cowok hidung belang berturut-turut Anda tetap belanja di sini, bahkan ketika Anda bersedih karena harus menjual diri untuk membayar hutang teman Anda, Anda masih saja belanja di sini. Sebagai bentuk penghargaan kami terhadap kesetiaan Anda pada CK, kami akan memberikan voucher belanja seharga lima juta rupiah untuk berbelanja di semua CK di Bandung selama satu tahun ke depan!”

Tina dengan wajah polosnya perlahan-lahan memperlihatkan senyum yang merekah, senyum tulus kegembiraan yang baru pertama kali ia tunjukkan kembali semenjak keperawanannya direnggut Yama.

8 komentar 14 Oktober 2009

Gembar-gembor rencana kedatangan Miyabi ke Indonesia menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai kalangan, ada yang menerima dan ada yang menolak. Salah satu hal yang menarik adalah ketika Arifin Ilham mengatakan ingin menasehati Miyabi agar dia bertobat dan juga klaim dari produser film yang bersangkutan bahwa Miyabi sebenarnya sudah bertobat dan ingin berhenti membintangi film porno. Namun terlepas dari pro-kontra tersebut, saya tidak tertarik untuk membicarakan masalah apakah Miyabi benar-benar sudah bertobat atau tidak, saya lebih tertarik dengan pertanyaan mengenai mengapa wanita-wanita seperti dia awalnya memilih untuk menjadi bintang film porno dan mengeksploitasi tubuh mereka sendiri?


Ada pola pikir yang berkembang bahwa tubuh perempuan memiliki nilai estetik yang lebih tinggi dibandingkan tubuh lelaki. Pemahaman ini dijadikan alasan untuk menjelaskan mengapa banyak perempuan yang mengeksploitasi tubuhnya sendiri. Contoh sederhananya, banyak perempuan yang begitu mengagumi tubuhnya sendiri sehingga secara diam-diam berpose di depan kamera dengan gaya yang sensual (atau malah telanjang), meskipun hanya untuk koleksi pribadi (pernahkah Anda melakukannya? Kalau tidak, tinggal browsing semua teman perempuan Anda di facebook atau friendster dan Anda akan menemukan satu atau dua contoh konkrit). Bahkan ada yang mengklaim bahwa perempuan lebih suka melihat tubuh sesama perempuan daripada lelaki melihat tubuh sesama lelaki. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali Anda mendengar seorang perempuan berkata tentang perempuan lainnya: “Cewek itu seksi banget”. Cukup sering? Lalu bandingkan kapan terakhir kali Anda mendengar seorang lelaki berkata tentang lelaki lainnya: “Cowok itu seksi banget”. Jarang? Tidak pernah? Kalau laki-laki itu bukan gay, mungkin Anda akan memandang aneh dirinya. Lalu cobalah buka majalah khusus wanita, maka Anda akan menemukan banyak model perempuan yang difoto dalam berbagai gaya. Kemudian buka majalah pria dewasa, dan (anehnya) Anda akan tetap menemukan model perempuan juga. Pertanyaannya adalah, apakah benar tubuh perempuan memiliki nilai keindahan yang lebih tinggi daripada tubuh lelaki? Dan kalau memang iya, apakah itu alami? Atau sebuah konstruksi?


Ketertarikan lelaki terhadap perempuan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah, begitu juga ketika seorang lelaki terangsang secara seksual saat melihat perempuan. Namun sebenarnya, yang membuat laki-laki terangsang bukanlah perempuan secara nyata, melainkan adalah pikiran laki-laki itu sendiri mengenai perempuan (atau apapun) yang dilihatnya. Seseorang entah siapa boleh jadi punya pertanyaan yang polos, “mengapa ketika melihat perempuan telanjang seorang lelaki mengalami ereksi?” Atau ketika seorang lelaki melihat perempuan yang berpakaian seksi, maka lelaki itu mengalami rangsangan seksual, dan ketika beberapa menit kemudian ia menyadari bahwa perempuan seksi itu ternyata adalah seorang waria, rangsangan itu pun semerta-merta hilang. Mengapa? Karena di dalam pikiran laki-laki itu, si waria masih merupakan seorang perempuan tulen selama status warianya belum terungkap. Dengan kata lain, yang membuat laki-laki itu terangsang adalah perempuan tulen yang ada di dalam kepalanya, bukan si waria yang ada di dunia nyata. Hal ini berlaku dalam kasus-kasus lainnya, misalnya dalam kartun atau komik porno (hentai). Jangan bertanya mengapa ada lelaki yang bisa terangsang melihat film kartun, yang jelas-jelas perempuannya hanyalah perempuan bohongan. Ibaratnya di dalam kepala lelaki ada tombol untuk mengaktifkan rangsangan seksual, siapapun (atau apapun) yang menekan tombol itu, tidak jadi masalah. Apakah itu perempuan sungguhan, waria yang tidak ketahuan, atau gambar kartun, bukanlah hal yang paling penting.


Oleh karena itu apabila laki-laki menganggap tubuh perempuan sebagai objek keindahan, tentu adalah hal yang wajar, itu adalah sudut pandang lelaki. Namun seperti yang kita ketahui bahwa lelaki telah begitu lama mendominasi peradaban manusia, sehingga secara disengaja atau tidak, sudut pandang lelaki mengenai sensualitas perempuan telah diadopsi juga oleh kaum perempuan sendiri. Itulah alasannya mengapa banyak perempuan yang mengeksploitasi tubuh sesama perempuan atau malah tubuhnya sendiri. Turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, pola pikir perempuan telah terinfeksi oleh pola pikir lelaki bahwa tubuh perempuan merupakan objek keindahan yang perlu dikagumi, ditunjukkan, dan dibanggakan di depan umum. Pencitraan itu selalu dibawa oleh media informasi dari zaman ke zaman. Pada zaman dahulu, pola pikir itu disebarkan melalui lukisan-lukisan telanjang (yang tentu saja dilukis oleh laki-laki), sementara pada zaman sekarang ini pola pikir itu dibawa oleh iklan, film, majalah, dan segala macam media informasi modern. Seolah dihipnotis, sejak kecil perempuan menyerap informasi itu dan kemudian menjadi terpengaruh. Bagaimana mereka menyaksikan kontes kecantikan di televisi, iklan parfum dan perawatan tubuh, model pakaian di majalah-majalah fashion; telah mengkonstruksi pemahaman mereka bahwa tubuh mereka adalah sumber keindahan alami.


Infeksi pola pikir seksual laki-laki terhadap pola pikir perempuan menimbulkan dua jenis reaksi. Pertama, adalah perempuan yang bersikap defensif. Ketika seorang perempuan mengadopsi pemahaman lelaki bahwa tubuhnya adalah sumber keindahan, ia pun berusaha membuat pertahanan karena merasa bahwa pola pikir itu menempatkan dirinya sebagai objek yang diperebutkan, sebagai mangsa yang harus waspada terhadap serangan para serigala lelaki. Kedua, adalah mereka yang bersikap permisif. Perempuan jenis ini biasanya adalah perempuan yang merasa bahwa karena tubuhnya merupakan sumber keindahan, maka tubuhnya merupakan sebuah aset yang harus dimanfaatkan. Mereka menerima pemahaman lelaki bahwa tubuh mereka merupakan objek estetik, dan memperlakukannya sebagaimana yang diinginkan oleh pola pikir lelaki. Dengan berpakaian seksi dan memperlihatkan bagian tubuhnya, mereka merasa bahwa mereka telah benar-benar menjadi seorang “perempuan”, padahal pengertian “perempuan” di sini adalah konsep perempuan dalam pola pikir lelaki yang secara mentah-mentah telah mereka adopsi. Perempuan tipe inilah yang paling berpotensi untuk mengeksploitasi sesamanya, atau dirinya sendiri, seperti halnya Miyabi.


Oleh karena itu, saya tidak percaya apabila dikatakan bahwa tubuh perempuan memiliki nilai keindahan yang lebih tinggi daripada tubuh laki-laki. Itu adalah sebuah konstruksi. Tentu saja pendapat itu benar apabila kita melihatnya dari sudut pandang laki-laki secara normal, namun perempuan tidak seharusnya memahami tubuhnya sendiri berdasarkan sudut pandang laki-laki. Kalau kacamata seksual laki-laki terus-menerus dipaksa dikenakan oleh perempuan, maka selama-lamanya perempuan akan menjadi objek pemuas hasrat laki-laki. Bagaimana mungkin seorang perempuan bintang film porno (objek pemuas) ingin disejajarkan dengan para lelaki (subjek yang dipuaskan)? Selama hal itu terus berlangsung, saya rasa emansipasi wanita hanyalah mimpi di siang bolong.

4 komentar 29 September 2009

Kegiatan MataKataKita berupa sayembara penulisan cerita pendek bagi penulis mata awas (masyarakat normal) dan penulis tunanetra untuk dikolaborasikan dalam sebuah penerbitan buku dua aksara. Penerbitan buku tercetak aksara braille untuk tunanetra, dan penerbitan buku aksara latin untuk masyarakat mata awas.

Syarat dan Ketentuan Karya

1. Peserta: Terbuka untuk umum, baik dari kalangan mata awas maupun tunanetra.

2. Tema : Perjuangan hidup

3. Isi :

  • Maksimal 5 halaman A4 untuk aksara latin; dan 15 halaman untuk aksara braille.
  • Diketik dengan aksara latin berspasi 1,5 fontasi 12 poin Times New Roman; dan aksara Braille (manual atau tik) untuk tunanetra
  • Harus karya asli, bukan saduran atau jiplakan
  • Memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
  • Karya yang dikirimkan adalah karya yang hak ciptanya masih menjadi milik penulis, dan belum pernah dipublikasikan di media massa

4. Pengiriman:

  • Untuk pengiriman cerpen beraksara latin, baik dari kalangan mata awas maupun tunanetra, dikirim melalui email dalam bentuk lampiran softcopy dokumen (attachment) berformat *.doc atau *.rtf. Email dikirimkan ke matakatakita@gmail.com dengan subjek: “Sayembara Cerpen MataKataKita” dengan mencantumkan:
  1. Nama lengkap dan keterangan status mataawas/tunanetra
  2. Biodata singkat penulis (maksimal 50 kata)
  3. Alamat surat menyurat lengkap
  4. No. Telepon / ponsel aktif
  • Bagi yang mengirimkan cerpen dalam bentuk aksara braille, baik tertulis manual atau dengan mesin tik braille, naskah dapat dikirimkan melalui pos ke alamat:
    Komunitas EnamPena
    d/a Jln. Jenderal Ahmad Yani No. 608 Bandung 40115
  • Setiap peserta paling banyak mengirimkan 2 (dua) judul karya
  • Batas akhir penerimaan karya adalah tanggal 4 Oktober 2009

5 . Seleksi:

Satu buku akan memuat 7 karya dengan perincian:

  • 1 buah karya dari sastrawan Putu Wijaya sebagai penulis tamu
  • 1 buah karya dari sastrawan Irwan Dwi Kustanto sebagai penulis tamu
  • 2 buah karya dari penulis mata awas hasil seleksi sayembara
  • 2 buah karya dari penulis tunanetra hasil seleksi sayembara
  • 1 buah karya dari panitia penyelenggara

6. Penjurian:
Penjurian sayembara akan dilaksanakan oleh tim yang diketuai sastrawan Hudan Hidayat. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

7. Hadiah:
Masing-masing peserta yang cerpennya terpilih mendapatkan hadiah uang senilai Rp.500.000,-. Cerpen yang terpilih seleksi sayembara akan diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen beraksara braille yang akan disebar di perpustakaan Sekolah Luar Biasa dan Panti Tunanetra di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Selain itu juga diterbitkan buku aksara latin yang akan disebarkan secara gratis di seluruh Indonesia.

0 komentar 12 September 2009

Q = Question

A = Artist



Q: “Good morning, may I take a seat here?”

A: “Sure. Just to remind you that there is no chair over there.”

Q: “It's okay. Um, can we have a little conversation, I mean, an interview, if you don't mind?”

A: “Okay. I know I'm famous.”

Q: “So, you are an artist, right?”

A: “Yes, that's what I call me.”

Q: “What kind of art do you make?”

A: “Well..., I write, I paint, I draw, I interview myself....”

Q: “I see. I kind of interested in your paintings since I haven't seen one. Can you explain to me about your paintings?”

A: “My painting style is a.... an ugly painting. You know, there is action painting, there is abstract painting, then there is ugly painting. Mine is ugly painting. It's intended to be ugly.”

Q: “How curious. Aren't paintings supposed to be aesthetically beautiful?”

A: “No, they are not. But I can understand your misconception because you are just a commoners. Now write down my statement: Paintings don't have to be, what is it called? 'Aesthetically beautiful'. Paintings don't even have to be beautiful at all.”

Q: “Uh huh, give me your reason.”

A: “Because paintings aren't women! Women have to be beautiful, but paintings don't. You got that? I mean, I'm a man, my paintings should be handsome, not beautiful. This must be feminists' conspiracy, they are always fishy.”

Q: “Are you anti-feminist?”

A: “No, I'm not. I love females, especially humans.”

Q: “I see, that's very inspiring. Now I think I have to ask you something cliché, don't mind?”

A: “What is it? The-what-is-art question?”

Q: “Yes, that's right. In your perspective, what is art?”

A: “Art is... anything useless.”

Q: “Why do you say that?”

A: “Come on, don't be too human. Let's think from the urinal's point of view. A urinal was once a useful object, we could use it, I mean, we could pee on it, right? But when Duchamp made it an art object, it's become useless, it can't be used to pee anymore. Art make things useless, so art is destroying—not creating.”

Q: “Are you trying to imply that art has no important role in human civilization?”

A: “No of course not, people will put me on stake if I said that (laugh). Art has role, and it's role is to make something useful become not useful anymore. That's very important role, you know? Imagine if every object in your life is always useful, that will be so damn boring.”

Q: “Interesting. Now let's get back to earthly question, who is your favorite artist? I mean, other than yourself, obviously.”

A: “God. God is my favorite artist. God is most creative, God creates everything, even rainbow and art dealers.”

Q: “Are you saying that because your lack of knowledge about other artists?”

A: “Hmm..., yes.”

Q: “Okay, so your art is influenced by God?”

A: “Yes. Who's not?”

Q: “Another question, what's your opinion about today's art world?”

A: “I think it's very terrible. Well they say, painting is dead, conceptual art is dead, author is dead, morality is dead, religion is dead, ...everything is dead! Everyone is dead! But I am... alive....”

Q: “So you are alive?”

A: “Yes I am, that's why I'm here.”

Q: “That's tragic. If the art world—or even the world itself—is already dead, so why do you become an artist?”

A: “That's the point. I am an artist, when everyone else is dead.”

Q: “Wow, you're so honest. Next question. What's your opinion about artists who sell their art for a large sum of money? Are you kinda idealistic about this?”

A: “I think it's their choice if they want to sell their art or not, it's theirs, anyway. But personally, I don't agree with commercialization of art, because it's very capitalistic.”

Q: “Hmm... so how will you sell your art then?”

A: “Never! I'm NOT gonna sell my art!”

Q: “Wow, really?”

A: “I'm gonna rent it!”

Q: “....”

A: “I need money to live. If I don't have money, I'll be dead just like everyone else.”

Q: “Okay I understood that. Now this one will be my last question....”

A: “What a shame.”

Q: “The question is, why are you interviewing yourself? Are you freak?”

A: “Because this is art! Everything I can't explain and everything you won't understand, is art. Everything said in English, is art too. Understood?”

Q: “Umm, okay. I think I got it. Well then, I have to end this delusional conversation, so I'll leave you to your thought. Thank you very much.”

A: “I'm welcome.”

0 komentar 01 September 2009

Sebuah Dongeng

Alkisah, ada dua orang yang hidup bertetangga, namanya Ina dan Meli. Di rumah Ina, terdapat sebuah pohon mangga yang meskipun tak pernah diurus, namun tumbuh lebat dan subur. Pohon mangga tersebut ditanam oleh kakek moyang Ina dan Meli pada zaman dahulu jauh sebelum kedua rumah mereka dibangun. Saking suburnya pohon tersebut, sebagian rantingnya sampai melewati pagar rumah Ina dan menyembul ke rumah Meli. Suatu hari, beberapa buah mangga dari pohon itu jatuh dan mendarat di halaman rumah Meli. Meli yang merasa buah itu adalah miliknya kemudian menjualnya di tukang buah, dan laku keras. Mengetahui hal tersebut, Ina pun marah. Maka bertengkarlah kedua ibu-ibu komplek itu.

“Dasar maling!” kata Ina.
“Dasar sirik!” kata Meli.

Sebuah Opini

Akhir-akhir ini, setelah kita ramai mengutuki Nurdin M. Top sebagai otak pelaku pemboman lalu, giliran Malaysia yang menjadi objek umpatan dan gunjingan. Hal tersebut dipicu oleh berbagai kasus “pencurian” budaya yang dilakukan oleh negara tetangga tersebut, selain masalah TKI --dan Manohara. Anak-anak muda yang sebelumnya jarang sekali memiliki rasa nasionalisme, kini ramai bercuap-cuap memaki dan mengutuk Malaysia di forum-forum internet. Mereka tiba-tiba saja peduli terhadap tari pendhet, melebihi kepedulian terhadap ayam penyet. Ada apa ini? Apakah terjadi suatu quantum leaps dalam jiwa nasionalisme generasi muda? Apakah itu artinya upacara bendera memang tidak ada hubungannya dengan nasionalisme?

Saya rasa, logika yang berlaku di sini adalah logika yang sama seperti yang berlaku di kalangan anak-anak geng. Ketika kita menjadi bagian dari sebuah geng, kita akan marah ketika salah seorang teman satu geng kita diganggu oleh geng lain. Kita tidak akan pikir panjang mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar, dan apakah ada jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara baik-baik, sebab yang ada di pikiran kita hanyalah membela kawan kita tersebut dengan cara balas menyerang. Akhirnya, mudah ditebak, terjadilah tawuran, dendam kesumat tanpa ujung, dan kebencian yang mendarah daging. Nah, dalam skala besar, logika gengster ini bisa kita samakan dengan nasionalisme. Benar atau salah, ini negara kita, begitu katanya.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa kita salah dan mereka benar ataupun sebaliknya, saya hanya ingin mengatakan bahwa kita seharusnya melihat permasalahan secara lebih objektif. Meskipun kita adalah orang Indonesia, namun agar kita dapat melihat permasalahan ini dengan lebih jernih, sejenak tanggalkan dulu nasionalisme itu, baru menentukan mana yang benar dan mana yang salah secara rasional dan bagaimana cara menyelesaikannya. Saya tidak suka dengan kata-kata Permadi yang seenaknya menyerukan perang, begitu pula dengan orang-orang di forum yang seenaknya menyatakan perang, seolah perang itu adalah urusan ringan yang main-main. Saya percaya, bahwa perang militer hanya boleh dilakukan untuk membela diri saja, apabila kita diserang dengan kekuatan militer terlebih dahulu. Namun apabila sekarang kita diserang dengan pemikiran atau wacana, maka kita harus membalas mereka dengan pemikiran dan wacana juga, bukan dengan militer! Dasar orang-orang barbar haus perang.

Sekarang banyak orang yang membawa permasalah ini ke dalam masalah budaya dan harga diri bangsa. Memangnya apa sih budaya itu? Apa benar selama ini kita menghargai budaya? Untuk apa? Satu-satunya jawaban paling jelas yang bisa saya lihat adalah, kita memperebutkan “budaya” untuk alasan-alasan yang komersil, ujung-ujungnya duit. Semenjak awal, budaya menjadi penting bagi kita karena budaya tersebut bisa dikomersilkan melalui pariwisata, bukan karena budaya tersebut memiliki ajaran budi pekerti yang luhur. Ini bukan masalah harga diri, tapi pada dasarnya ini adalah masalah materi, masalah cadangan devisa dari sektor pariwisata. Saya teringat dengan perkataan seorang teman, bahwa budaya itu muncul karena adanya kebutuhan. Ketika budaya tidak lagi dibutuhkan, maka budaya akan lenyap. Lalu mengapa kita sekarang berusaha melestarikan budaya? Apakah kita masih membutuhkan budaya tersebut? Ya, kita masih membutuhkannya karena budaya itu bisa menghasilkan uang bagi kita, itulah alasan kita melestarikan budaya selama ini. Ini adalah pola pikir yang dibangun dalam kehidupan materialistis di abad 21 ini. Dahulu, para leluhur kita menciptakan aturan adat dan tradisi adalah untuk kepentingan bersama, dan mereka tidak perlu repot-repot mendaftarkan HAKI, karena budaya memang bukan untuk dijual atau dikomersilkan. Ketika budaya sudah menjadi hak milik dan barang dagangan, maka hal inilah yang terjadi, pertengkaran antar negara bertetangga yang rakyatnya sama-sama emosional.

Kalaupun ini memang masalah materi, tentu bukan berarti ini bisa diabaikan. Tetap saja kita perlu berusaha mencari keadilan, namun dengan cara-cara yang intelektual dan kepala dingin. Tidak perlu menyerukan perang atau menebar kebencian, itu hanya akan menunjukkan sifat kekanak-kanakan masyarakat kita. Saya malah curiga bahwa orang-orang yang suka menyerukan perang itu sebenarnya adalah provokator yan ingin meresahkan warga. Bila Indonesia dan Malaysia sampai perang karena masalah ini, ada pihak-pihak lain yang bisa memanfaatkannya untuk kepentingan politik mereka masing-masing. Waspadalah.

5 komentar 22 Juli 2009


LOVASKEPTIKA
Penulis: Dadan Erlangga
Penerbit: Mas Media Buana Pustaka
Tebal: 145+
ISBN: 602835062-1
Harga: Rp. 24000,-






“Ya, memang, sebagian perempuan lebih menyukai lelaki yang unik daripada yang baik. Dan kebanyakan istri lebih menyukai suami yang baik daripada yang unik.” --Tertusuk, Lovaskeptika.



Kutipan di atas adalah salah satu kalimat menarik yang bisa kita temukan dalam sebuah cerpen pada buku Lovaskeptika karya Dadan Erlangga. Lovaskeptika adalah nama buku kumpulan cerpen yang mengajak kita untuk menelusuri relung-relung emosi manusia yang didefiniskan oleh kamus tak tertulis sebagai “cinta”. Apabila cinta diibaratkan sebagai semangkuk penuh nasi, maka dalam buku ini cinta yang dibahas bukanlah pada porsi semangkuk nasi itu, melainkan pembahasan pada tekstur tiap butiran nasinya, detil-detil yang demikian halus yang kadang kita abaikan.

Pada halaman awal kita akan menemukan sebuah sinopsis dan daftar tokoh (ada 7 tokoh, pria dan wanita) yang sebenarnya tidak begitu penting, kecuali bagi pembaca yang punya sindrom selalu melupakan tokoh. Namun, karena buku ini pada hakekatnya bukanlah sebuah novel, melainkan kumpulan cerpen, maka seluruh bagian pembuka tersebut bisa kita abaikan sama sekali tanpa mengurangi kenikmatan membaca. Hal tersebut disebabkan karena hubungan antar cerpen yang ada dalam buku ini terasa amat lemah satu sama lain, sehingga tidak masalah Anda mulai membaca dari cerita yang mana.

Apabila diibaratkan dengan sebuah tayangan televisi, maka Lovaskeptika adalah sebuah serial lepas yang tiap episodenya menyajikan cerita berbeda dengan tujuh orang aktor/aktris yang sama. Saya tidak bisa menyangkal bahwa kekuatan dari buku ini bukanlah pada penokohannya, tapi pada deskripsi dan eksplorasi temanya. Hal itu dibuktikan dengan kebiasaan Dadan sebagai penulis yang (mayoritas) menggunakan sudut pandang orang pertama, sementara tidak ada perbedaan yang mendasar dalam gaya bahasa setiap tokoh “aku”-nya—semuanya hampir selalu melankolis dan sarat dengan kata-kata yang mendalam, dengan kata lain semua tokoh itu adalah Dadan. Satu hal yang bisa dianggap sebagai kekurangan, namun bisa kita abaikan.

Dalam hal deskripsi, Dadan adalah penulis pemula yang sama sekali tidak bisa diremehkan. Narasi dan deskripsi yang ia hadirkan memiliki cita rasa yang mengalun lembut dan merasuk ke dalam benak pembacanya. Tentunya hal ini menjadi klop ketika ia membawakan tema percintaan, dan akan menjadi bencana kalau (misalnya) ia membuat genre action-thriller. Syukurlah Lovaskeptika adalah buku tentang cinta.

Tentu saja ada jutaan buku fiksi yang mengangkat tema cinta di luar sana, sebab itu ada kelompok orang yang percaya bahwa “tema cinta gak ada matinya”. Eksplorasi Dadan dalam masalah cinta tampak sudah begitu mendalam. Saya tidak akan terburu-buru mengaitkan semua tema-tema itu (tentang patah hati, kehidupan malam, perselingkuhan, seks bebas, bahkan homoseksualitas) dengan pribadi penulis, namun tentunya kita dapat mengira-ngira bahwa penulis adalah seorang observator yang handal terhadap berbagai lika-liku kehidupan percintaan di sekelilingnya. Pembaca akan dengan mudahnya merasakan getaran emosi apabila memiliki pengalaman percintaan yang bersinggungan dengan salah satu cerpen dalam buku ini (kecuali mereka yang tidak punya pengalaman cinta atau mereka yang pengalaman cintanya selalu lurus-lurus saja)

Don't judge a book by it's cover, adalah pepatah yang sebaiknya [di]berlaku[kan] pada Lovaskeptika. Desain sampul yang sangat minimalis dan malah bisa dibilang terlalu seadanya, serta ukuran buku yang mungil, mungkin akan membuat sebagian orang menjadi “skeptik” pada Lovaskeptika. Apalagi karena kumpulan cerita pendek seringkali dianaktirikan atau dipandang sebelah mata oleh industri buku saat ini, seolah membuat cerpen adalah pekerjaan iseng semata. Kelemahan dalam buku ini memang dari segi pengemasannya, baik di bagian luar (cover) maupun bagian dalamnya (tidak ada kata pengantar yang pas, sinopsis yang kurang perlu, layout yang tidak maksimal). Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya komunikasi yang jelas antara penulis dan penerbitnya—yang sama-sama masih pemula.

Melihat besarnya potensi yang terkandung dalam Lovaskeptika, maka buku ini dianjurkan untuk dibaca oleh siapa saja yang menyukai kisah-kisah cinta “manis-pahit-mendayu-dayu”. Melihat besarnya potensi yang terkandung dalam diri penulisnya, maka karya ini belumlah karya masterpiece dari Dadan Erlangga, sebab kita layak bertaruh untuk karya selanjutnya yang jauh lebih baik lagi.


Kelebihan:
kata-kata yang menghanyutkan
eksplorasi tema yang menarik
cerpen yang memang pendek dan berdiri sendiri-sendiri, cocok untuk mengisi waktu senggang

Kekurangan:
penokohan yang terkesan dipaksakan
hubungan antar cerita yang juga terkesan dipaksakan
kemasan yang tidak menarik

Cocok untuk:
semua orang yang suka cerita cinta-cinta-cintaan.
remaja perkotaan metropolitan yang gaul gimana gituh
wanita karir yang modern, cantik, dan sexy, pakai rok mini (?)
playboy dan playgirl
mellowmania

Tidak cocok untuk:
ibu-ibu hamil dan menyusui (nggak deng, becanda. Hehe)
pembaca yang berorientasi pada action dan sadisme
cowok-cowok ekstrimis macho anti-mellow yang tidak percaya bahwa cowok bisa menangis
remaja pedesaan bersahaja yang tidak ingin terpengaruh gaya hidup remaja metropolitan
orang-orang yang merasa sangat kaya raya dan gengsi beli buku tipis

3 komentar 19 Juli 2009





Nightmares
Penulis: Alexander Bonaparte Cruz
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Tebal Halaman: 322
ISBN: 978-602-8350-15-0

Tokoh utama dalam novel ini adalah James Baldwin, seorang pria berusia 25 tahun yang tinggal di sebuah kota bernama Watercrock di Inggris zaman dahulu, mungkin awal abad-20. Cerita dalam novel ini hampir selalu berkutat di seputar pembunuhan dan pembunuhan, serta mimpi buruk—sesuai dengan judulnya. Alkisah, terjadi pembunuhan berantai misterius di kota Watercrock yang bisa dibandingkan dengan pembunuhan Jack The Ripper. Pembunuhan yang selalu menargetkan pria sebagai korbannya itu menebar teror di seisi kota, dan di sinilah peran James diberikan, James memiliki indra ke-enam: ia dapat meramalkan pembunuhan-pembunuhan tersebut melalui mimpinya. James digambarkan sebagai karakter yang labil dan lemah dengan masa lalu yang berkabut, jadi jangan berharap akan ada banyak action tentang bagaimana James mencoba mencegah pembunuhan-pembunuhan itu, karena penekanannya lebih kepada sisi psikologis James dan teka-teki yang harus dipecahkan. Adegan aksi yang cukup intens baru bisa kita nikmati pada bagian akhir saat dua tokoh mengalami konfrontasi fisik, dan pada akhirnya harus diselesaikan dengan ending yang menggantung—serta tidak membahagiakan.

Bagi mereka yang tidak terbiasa membaca novel-novel Barat kecuali karya Dan Brown (yang bertempo cepat), novel ini mungkin akan terasa membosankan pada beberapa (puluh) halaman pertama. Namun sebaliknya, bagi mereka yang terbiasa atau malah fanatik dengan novel-novel bertempo lambat dan memiliki detail yang kuat, mungkin akan menyukainya. Penulis memang senang sekali membuat deskripsi yang rinci dan malah dalam beberapa kalimat sampai memasukkan unsur emosional dari sang narator. Jangan terlalu khawatir sebab kebekuan suasana akan segera mencair sesegera mungkin, sesegera pembunuhan pertama terjadi dalam novel ini. Bukankah adegan pisau mengoyak tubuh manusia dan darah mengalir keluar adalah saat yang paling ditunggu dari sebuah novel pembunuhan?

Hal yang luar biasa adalah, kita bisa meyakini bawa penulis tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa ia mengidolakan penulis-penulis besar seperti Arthur Conan Doyle, Agatha Cristie, dan Stephen King. Suasana Watercrock yang dibuat gelap dan suram serta atribut ke-Inggris-an ala novel detektif membuat kita lupa bahwa novel yang kita baca sebenarnya dibuat oleh orang yang bukan orang Inggris—dan sama sekali tidak terlihat seperti orang Inggris. Untuk menambah bobot pada deskripsinya, penulis tidak lupa memasukkan beberapa istilah ilmiah dan penafsiran bebas dari teori mimpi Freud, hipnosis, dan Satanic Ritual Abuse (SRA) yang menjadi salah satu poin dalam cerita ini. Di balik semua itu, kita juga pastinya akan diajak untuk menjawab pertanyaan klasik yang wajib ada dalam genre closed mystery: “Siapakah pelakunya?”

Dalam hal pengemasan, sayangnya novel ini kurang memuaskan. Beberapa salah ketik sebagai kelalaian editor dan cetakan yang kurang rapi, serta layout cipratan darah di setiap halaman mungkin akan sedikit mengganggu mata pembaca. Namun hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Masmedia adalah penerbit baru yang masih sedang berkembang dan mengalami perbaikan.

Novel ini sangat baik untuk dibaca oleh para pencinta misteri dan cerita pembunuhan, namun saya berani bertaruh bahwa ini bukanlah karya maksimal yang bisa dihasilkan oleh penulisnya. Mengingat ini baru novel pertama, maka ia pasti akan membuat karya yang lebih baik dan lebih baik lagi.